Written by 6:29 pm INS, News, Staff's Picks, Teachers

To Know Who I Am, and What I Want

Ini alasan mengapa siswa perlu tahu siapa dirinya, apa maunya, dan kemana esok melangkah …

“Jangan minta buah mangga dari pohon rambutan. Jadikanlah semua pohon berbuah manis.”  Engkoe Mohammad Sjafei, pendiri sekolah nasional INS Kayutanam, 1926, Sumatera Barat.

Hampir selalu kita temui,  di lingkungan keluarga sendiri, seperti orangtua atau kakak, yang berpendidikan di suatu  bidang keilmuan tetapi akhirnya berprofesi menekuni satu bidang yang berbeda, atau sama sekali berlainan arah. Keahlian kesarjanaannya hampir sama sekali tak tergunakan. Yang terpakai hanya kemampuan personal, seperti karakter kepribadian yang kreatif, daya adaptasi, daya fikir, serta kreativitas.

Ini sesuatu yang sangat ironis.

Betapa sumberdaya manusia Indonesia tak terbentuk dengan optimal, dan begitu banyak energi seseorang terbuang lantaran berputar-putar hingga  menemukan versi terbaik dirinya.

Dalam banyak kasus, setelah lulus SMA, seorang anak bingung mau melanjutkan ke bidang apa.

siswa SMP INS berlatih menari

Siswa SMP INS berlatih menari

Ketika orangtua bertanya, “mau melanjutkan kemana?” biasanya sang anak menjawab, “apa ya.., terserah pilihan ayahbunda saja“, atau “lihat dulu teman-temanku pada ke mana“, atau “ada..beberapa, tapi masih pikir-pikir“.

Sebagian mahasiswa yang terjaring program minat bakat dan masuk ke perguruan tinggi ternama, bahkan merasa salah jurusan, karena waktu itu terpikat saran guru pembimbing dan mempertimbangkan kemudahan diterima.

MODEL PENDIDIKAN NATURAL DI JENJANG SMP

Sedikit menoleh ke belakang, saat konsep sekolah SMP the Indonesia Natural School disusun oleh Yayasan Semut Beriring, pada tahun 2008-2009.

Ketika itu, Bunda Arfi Destianti merasakan, betapa kritik pendidikan yang sering dilontarkan beberapa tokoh pendidik nasional seperti (alm) Prof. Mochtar Buchori, dan (alm) Prof. H.A.R Tilaar, terasa begitu mengena dalam pendidikan nasional kita.

Prof Mochtar Buchori

foto kenangan alm Prof. Mochtar Buchori saat diwawancara oleh Bunda Arfi Destianti, pemred Majalah Teachers Guide, di Yayasan Paras, Jakarta                                                

tokoh pendidikan (alm) Prof. H.A.R Tilaar

Prof. HAR Tilaar, menulis 15 buku tentang kritik  pendidikan Indonesia . Dok Foto: AR/Kompas.id

Ikhtisar dari pemikiran kedua tokoh ini antara lain:

  • terjadi kastanisasi pendidikan
  • komersialiasi dan favoritisme sekolah
  • pembedaan perlakuan terhadap siswa yang pintar dan tidak pintar
  • IPA vs IPS
  • pendidikan yang nir -integritas, nir-karakter, nir-egaliter, nir-toleransi, nir-keberagaman/multikultural
  • kurangnya pendekatan humaniora dalam pendidikan
  • berorientasi pada nilai akhir, UN, ijazah;  kurang memperhatikan proses pembelajaran
  • kurang memperhatikan pengembangan diri dan kompetensi siswa
  • lemahnya pengawasan pendidikan
  • korupsi pendidikan
  • lulusan perguruan tinggi tidak bisa bicara dan presentasi
  • sarjana nasional kalah tampil dengan sarjana asing
  • serbuan sekolah-sekolah (elit) internasional dari berbagai negara
  • pendidikan yang menyeragamkan siswa
  • sekolah yang nir-budaya, nir-seni, nir-nasionalisme, nir-kegembiraan, nir-karakter
  • bullying (tekanan, perundungan) oleh sesama siswa dan (kadang) guru
  • a-komunikasi, nir-pelayanan
  • dan masih banyak yang bisa ditambahkan lagi …

Dan juga mempertimbangkan bahwa kelanjutan dari program pendidikan di SD Semut-Semut the Natural School. Di mana di jenjang sekolah dasar, siswa dibentuk untuk menjadi anak yang mandiri, bertanggungjawab, menyukai belajar, dan memiliki dasar budi pekerti yang baik.

siswa SMP INS

kenapa? mungkin perlu tambahan kata-kata saat berbicara di muka publik …

Lantas, di SMP seharusnya kepribadian siswa dimaksud  dapat  diasah lebih tajam lagi. Ketika lulus SMP, misalnya, mereka telah tahu apa saja potensi bakat dan minatnya, berani tampil, mampu berbicara mengekspresikan diri, kreatif, berdaya adaptasi tinggi, serta memiliki karakter yang bagus.

Potensinya telah diketahui untuk diasah lebih jauh menjadi kompetensi yang unggul ketika melanjutkan ke jenjang SMA hingga seterusnya di pendidikan tinggi. (Lihat: Profil Lulusan –  the Indonesia Natural School Junior High)

Persoalan identifikasi minat bakat itu makin tampak setelah siswa melalui beberapa program “My Dream” atau “My Dream Board”, dan para siswa membuat visual time-line atau road-map garis Cita-Cita. Maka, siswa makin memiliki tujuan kenapa ingin bersekolah, berani mengungkapkan keinginan/cita-citanya,  dan juga ingin menguji siapa dirinya dengan seperangkat minat bakat yang dimilikinya.

Dan soal Dream/Cita-cita ini sebaiknya memang sudah dipertajam sejak jenjang SMP.

Tantangan bagi penyelenggara sekolah, seperti SMP INS, bahwa sekolah yang ingin mengakomodasi minat bakat siswa, tentulah harus berupaya untuk menyediakan beragam program di berbagai bidang, atau memiliki link/network dengan berbagai komunitas tertentu. Dan tentunya keberadaan psikolog sekolah amat sangat membantu dalam memetakan potensi minat bakat siswa.

belajar bicara di muka orang banyak

belajar bicara di muka orang banyak, mengasah kemampuan berkomunikasi

Begitulah singkatnya, SMP INS mengambil kredo atau motto: SMP INS – to Know Who I Am, dan What I Want, sebagai salah satu dasar bagi  pembelajaran dan pengembangan kurikulum. Yang kemudian kami menyebutnya: Learning Style Analysis & Interest Curiosity Based Learning.

Pemikiran Kritis Pendidikan Indonesia

Dengan paradigma to Know Who I Am, dan What I Want itu, sekaligus sekolah SMP INS  juga ingin merespon berbagai kritik terhadap praktek pendidikan nasional, sekaligus memberikan alternatif model pendidikan natural yang sesuai bagi kebutuhan perkembangan kepribadian anak di usia remaja yang penuh dengan pencarian jati diri.

TAMAN SISWA dan ajaran Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara

pendidikan yang menjunjung peradaban dan kebangsaan Indonesia

Yuk kita mencermati apa yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, yang mendirikan pendidikan Taman Siswa, sejak dari TK (Taman Indria), SD/SMP/SMA  (Taman Siswa) hingga pendidikan tinggi (Taman Wiyata), dimulai pada tahun 3 Juli 1922 di Tanah Jawa, tepatnya di Jogjakarta.

 

Ki Hajar, dalam konsep pendidikannya, sangat menghargai individual  kepribadian anak, dengan menciptakan sekolah sebagai layaknya taman belajar yang indah dan menyenangkan, bebas dari tekanan, ramah, memerdekakan anak, melayani, penuh kasih sayang, dan mengayomi.

Beliau menyusun gagasannya, antara lain setelah mempelajari model pendidikan progresif yang dikembangkan oleh Maria Montessori (Italia) dan terutama oleh Rabindranath Tagore (India).

Seorang guru di Taman Siswa, harus menjalankan pedoman Patrap Triloka: “Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan);
Ing madya mangun karsa (di tengah membangun karsa/kemauan/semangat); Tut wuri handayani (dari belakang mendukung).”

Kongres Taman Siswa di tahun 1946 yang merumuskan Panca Dharma Taman Siswa, yaitu asas kemerdekaan, asas kodrat alam, asas kebangsaan, asas kebudayaan, dan asas kemanusiaan.

Sekolah Taman Siswa mengutamakan pengembangan jati diri kebangsaan Indonesia, dengan menghargai dan menyelenggarakan berbagai kegiatan seni-budaya di sekolah. Sebuah sekolah dengan pendekatan multi-kecerdasan dan multi-kultural.

INS KAYU TANAM – dan ajaran Engkoe Mohammad Sjafei

Engkoe Mohammad Sjafei, penggagas INS Kayutanam

Engkoe Mohammad Sjafei, penggagas sekolah INS Kayutanam

Juga perhatikan petikan petuah dari tokoh pejuang pendidikan nasional, Engkoe Mohammad Sjafei, pendiri sekolah indonesia INS Kayu Tanam pada 1 Oktober 1926, dari sebuah desa kecil di Kab. Padang Pariaman, Sumatera Barat:

“Engkau jadilah engkau, sekolah berfungsi mengasah akal budi murid, bukan membentuk manusia lain dari dirinya sendiri.”

Jangan minta buah mangga dari pohon rambutan, tetapi jadikanlah semua pohon berbuah manis”. Begitu petuah Engkoe Sjafei.

 

Singkatan INS adalah Indonesisch-Nederlandsche School.  (Lihat di Tirto.id: INS Kayutanam, Sebuah Sekolah Alternatif yang Melawan Kurikulum Belanda) . Banyak tokoh besar nasional telah lahir dari lembaga INS Kayutanam ini yang ketika didirikan hingga sekarang berupa madrasah aliyah atau pendidikan sejenjang SMA.

Model pendidikan yang diajarkan oleh Engkoe Moh. Syafei yang juga tokoh pergerakan — ingat lho kala itu kita masih dalam era penjajahan kolonial Belanda — adalah pendidikan yang berorientasi pada mimpi atau kehendak dan keinginan siswa-siswanya, dan berorientasi pada bakat dari masing-masing siswanya.

Apabila siswa dapat dikembangkan berdasarkan talenta atau bakatnya, maka lulusannya akan menjadi sumberdaya yang mandiri, yang dapat menciptakan lapangan kerja sendiri, berjiwa entrepreneurship, dan berahlak mulia. Di INS memang disediakan banyak kegiatan untuk ketrampilan, seperti pertanian, peternakan, perbengkelan, pengolahan kayu, keramik, dsb. (sumber: Executive Summary, INS Kayutanam, oleh Perguruan Nasional Ruang Pendidik INS Kayutanam, 2006)

Jauh dahulu kala, kini lebih 90 tahun sejak tahun 1926 dahulu, tokoh Engkoe Mohammad Sjafei, yang lulusan sekolah guru Kweekschool,  telah berpandangan dengan visi yang begitu manusiawi, natural, menghargai keunikan setiap orang yang berbeda satu sama lain bakat minat dan potensinya, tetapi semua siswa harus menjadi sesuatu kompetensi.

Inilah inti dari paradigma kecerdasan majemuk serupa dengan teori multiple intelligences yang belakangan dirumuskan oleh Howard Gardner, tokoh pendidik dan psikolog berkebangsaan Amerika dan kini banyak dijadikan model pendidikan di Indonesia.

Gardner dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind: Teori Multiple Intelegences tahun 1983 mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan suatu masalah dan menciptakan suatu (produk) yang bernilai dalam suatu budaya. Pada mulanya Howard Gardner menyatakan ada tujuh jenis kecerdasan, yang kemudian dilengkapi menjadi 8 kecerdasan (tahun 1990). Yaitu: kecerdasan bahasa, logika matematika, intrapersonal, interpersonal, musik, visual-spasial, kinestetik, dan kecerdasan alam (iah) atau kecerdasan naturalis.

Di era Gardner, saat orangtua kita bersekolah, pendidikan memang kebanyakan membidik 2 jenis kecerdasan saja, yaitu lingustik (bahasa) dan matematika (logik) saja, dan abai terhadap beragam kecerdasan dalam spektrum kecerdasan yang dimiliki manusia. Ini mungkin sebabnya, para orangtua kita belum/tidak mengembangkan potensi diri, akibat penyeragaman program di sekolah-sekolah mereka dahulu, sehingga akhirnya setelah tamat bekerja di luar bidang pendidikan.

Pendidikan Natural:  Mendorong Siswa Mengenali Dirinya, dan Menjadi Dirinya yang Terbaik

Belajar dari berbagai mata air pendidikan Indonesia di atas, SMP INS menyadari pentingnya strategi perkembangan (kepribadian) anak, ketimbang melulu kepentingan pencapaian kecerdasan kognitif atau nilai-nilai akademik.

Terutama pemikiran Engkoe Sjafei, sangat membekas di hati. Agar setiap anak, mesti menjadi dirinya yang terbaik, seumpama buah mangga, jadilah buah mangga yang harum dan manis legit. Seumpama buah rambutan, jadilah buah rambutan yang manis, nglotok, dan berdaging tebal.

Jangan biarkan buah mangga berasa kecut, ataupun juga buah rambutan serasa pahit masam. Apalagi memaksa buah mangga serasa rambutan, ataupun rambutan harus seenak mangga. Siswa harus menjadi versi yang terbaik dari dirinya sendiri. Tidak boleh ada penyeragaman, karena setiap individu adalah unik, memiliki kelebihan dan keterbatasannya masing-masing.

siswa SMP INS

belajar mengapresiasi karya seni rupa

Kurikulum Nasional yang sudah dirancang oleh Depdiknas, dapat dikembangkan atau diperkaya dengan beragam kreasi pembelajaran, yang lebih menekankan pada multi kecerdasan, melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang terpadu, dengan mengedepankan aspek kebutuhan siswa, kegembiraan/antusiasme belajar, semangat kebangsaan, pencapaian personal siswa dalam berbagai bidang yang diminatinya.

Sebagian itu tersebut dalam program kurikuler, program talenta, program ekstrakurikuler, serta budaya perilaku yang baik. Dan semua terwadahi dalam satu semangat pencapaian perkembangan kepribadian siswa. Siswa diharapkan dapat mengembangkan minat dan potensinya, sebagaimana yang dituliskannya dalam roadmap Dream masing-masing.

Sehingga siswa mengenali diri dan panggilan hidupnya: to Know Who I Am, dan What I Want.

Berikut foto kenang-kenangan saat tim guru SD Semut-Semut bersama Bunda Arfi Destianti berkunjung dalam ziarah pendidikan, ke INS Kayutanam, Sumbar, tahun 2018, dan makam (alm)  bapak pendidikan Engkoe Mohammad Sjafei (1893 -1969):

ziarah pendidikan SD Semut-Semut ke INS Kayutaman, Sumbar Padang Pariaman, Sumbar, 2018. Bunda Arfi Destianti (keempat dari kiri) bersama guru SD Semut-Semut the Natural School

kunjungan berziarah ke sekolah nasional  tempo doeloe yang terkenal, INS Kayutaman di Padang Pariaman, Sumbar, tahun 2018.  Bunda Arfi Destianti (keempat dari kiri) bersama guru SD Semut-Semut the Natural School

makam Engkoe M. Sjafei Kayutanam

berziarah ke makam tokoh pendidikan nasional dengan visi pendidikan modern jauh melampaui zamannya. Doa kami, dan rasa terima kasih untuk Engkoe M. Sjafei, atas pemikiran besar mu untuk memajukan anak bangsa dan peradaban Indonesia

keadaan sekolah INS Kayutaman tahun 2018

masih tersisa kejayaan sekolah INS Kayutanam. Kini pemikiran beliau dan keadaan sekolah sedang diupayakan untuk tampil kembali sebaik-baiknya, direvitalisasi dengan nama baru Institut Talenta Indonesia, INS Kayutanam 1926.

 

/IM

 

 

(Visited 69 times, 1 visits today)
Close
WhatsApp chat