Written by 6:42 am News

Cara SMP INS Mengelola Siswa Berkebutuhan Khusus

Masih terbatas pendidikan inklusif jenjang SMP di kota Depok. Salah satunya SMP the Indonesia Natural School.  Bagaimana keseharian kegiatan para siswanya? Yuk kita ikuti … 

 

Di tahun ajaran 2019/20 ini, SMP the Indonesia Natural School mengelola 15 anak berkebutuhan khusus (disingkat ABK).  Di kelas VII ada 5 siswa, kelas VIII ada 8 siswa, dan di kelas IX terdapat 2 siswa. Mereka tersebar dalam 6 rombongan belajar.

Kendala mereka ada yang mengalami (1) Kesulitan belajar, (2) Slow Learner, dan (3) Mental Retarded (MR).

Mengelola anak berkebutuhan khusus memang menjadi pilihan ketika grup sekolah Semut-Semut awal didirikan. Sejak jenjang TK, SD (SD Semut-Semut the Natural School), hingga jenjang SMP (the Indonesia Natural School), kegiatan program inklusif berjalan berkesimbungan. Khusus SMP, telah berlangsung sejak awal didirikan tahun 2010, — kala itu masih bergabung satu lokasi dengan SD Semut-Semut.

Tim program inklusif ini terkoordinasi di bawah unit kerja  Learning Support Departemen (LSD) yang berkantor di SD Semut-Semut. Untuk jenjang SD, Semut-Semut terbilang sebagai Sekolah Pembina Program Inklusif se Kecamatan Cimanggis, Kota Depok.

siswa inklusi SMP INS, Depok

melatih fokus, ketelitian, motorik halus, dan manajemen waktu

TUGAS GURU PENDAMPING, MEMBIMBING SEGI KOGNITIF dan NON KOGNITIF

Program inklusif di SMP INS, dikelola oleh 5 guru pembimbing khusus (disingkat GPK), salah satunya Ibu Anggi Eka Aprilia yang bertindak sebagai koordinator.

Sekolah melakukan proses pembelajaran bagi siswa inklusi atau berkebutuhan khusus tersebut, dengan berbagai bentuk:

  • Individualized Educational Program (IEP). Yaitu, program bagi setiap persona anak, yang berbeda sesuai kebutuhan atau penekanan peningkatan yang ingin prioritas dicapai.
  • Pendampingan di kelas, yaitu tugas guru pembimbing khusus untuk menjembatani program/materi pembelajaran yang disampaikan guru mata pelajaran dengan kemampuan siswa ABK menerimanya. Misal, dengan menjelaskan ulang pemahaman materi pelajaran tersebut. Atau mengulang-ulang mengingat-memahami topik tersebut agar jangan mudah lupa.
  • Penurunan (modifikasi soal) sesuai dengan kemampuan anak. Menurunkan, mengubah (modifikasi soal), menurunkan atau menyesuaikan materi pembelajaran.

Ini dilakukan  sesuai dengan tingkat kemampuan siswa  (guru pembimbing khusus dapat juga melakukan penyesuaian saat pembelajaran berlangsung – on the spot). Untuk memudahkan penyesuaian tersebut, guru pembimbing khusus  telah mendapat informasi materi ajar yang akan diberikan sebelumnya.

  • Pengembangan diri dalam 4 hal: Life Skill ; Creative class (kerajinan tangan), Seni Rupa, dan Wiraga (seni tari).  Kegiatan pengembangan diri ini dilakukan setiap hari Jum’at, dengan waktu selang-seling, bergantian setiap minggunya untuk 4 pengembangan diri tersebut. Dilakukan oleh seluruh anak berkebutuhan khusus, dan dibimbing oleh guru pembimbing khusus.
siswa inklusi di SMP INS, Depok

wiraga atau menari sebagai salah satu cara mengatasi hambatan kemampuan gerak dan koordinasi

  • Remedial, disebut juga dengan pulling out.  Kegiatan ‘menarik siswa dari kelas reguler’ untuk melakukan pengulangan materi, baik kognitif maupun non-kognitif. Porsinya adalah 75% – 25% (kelas – luar kelas), ataupun 50% – 50% sesuai dengan hambatan ABK tersebut.

Dengan pengulangan, maka daya ingat atau pengertian siswa akan dipekuat. Bisa untuk satu mata pelajaran, atau untuk beberapa mata pelajaran, sesuai kebutuhan. Sebagai contoh, untuk siswa dengan kebutuhan MR (mental retardasi), pola belajar khususnya diperbesar, 50 : 50, dalam seminggu mendapat lima kali pulling out.

siswa inklusi SMP INS, Depok

kesempatan belajar terpisah (pulling out) dari kelas reguler

KENDALA YANG PERLU DIATASI OLEH SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS

Mereka umumnya memiliki keterbatasan atau hambatan dalam  Motorik Halus, Motorik Kasar, Komunikasi, Sosialisasi, Emosi, Tanggungjawab, dan Manajemen Waktu.

Untuk membantu meningkatkan motorik halus, siswa diberikan kegiatan berupa menulis, menggunting, melipat. Untuk motorik kasar, siswa didorong lebih banyak bergerak, dan mengikuti kegiatan olahraga.

Dalam hal keterbatasan komunikasi, siswa didorong untuk aktif membaca, menjawab pertanyaan, dan berbicara.  Sedangkan agar lebih trampil bersosialisasi, siswa ABK diajak berinteraksi dengan teman, lingkungan, dan tentunya bersama para guru.

Beberapa siswa terkendala dalam  manajemen waktu, maksudnya seringkali lambat menyelesaikan tugas tantangan. Untuk itu, biasanya dilatihkan bertahap, tiap tahapan berikutnya waktu untuk pengerjaan soal-tugas dipersingkat.

siswa inklusif di SMP INS, Depok

juga mengatasi hambatan emosi dan tanggungjawab

Sekilas INDIVIDUALIZED EDUCATIONAL  PROGRAM (IEP)

Guru pembimbing khusus (GPK) membuat program untuk setiap anak, yang disebut IEP tadi.  Sebab, tiap anak berbeda kebutuhan pembelajarannya, dan penekanan pada aspek tertentu yang berbeda-beda.

IEP ini dibuat per-6 bulan (semester). Dan terhadap program tersebut, dilakukan evaluasi tiap tiga bulan sekali. Orangtua mendapatkan laporan perkembangan siswa tersebut.

Jika berhasil mengatasi hambatannya, maka hambatan tersebut sudah dapat dihapus dari program IEP. Jadi, makin lama makin sedikit daftar kendala dalam IEP siswa.

IEP dibuat oleh guru pembimbing khusus, dan orangtua memperoleh salinan program IEP tersebut.

Agar IEP berjalan optimal, orangtua mendapat  lembar Form Monitoring tiap bulan. Isinya tentang tanggal, kegiatan, dan keterangan. Tujuannya, orangtua membantu memperhatikan perkembangan siswa terutama aspek non-kognitif, seperti: kemandirian, sosialisasi, emosi, tanggungjawab.

Form Monitoring bulanan, setelah diisi tiap hari oleh orangtua, dikembalikan ke sekolah akhir bulan. Di situ akan tercatat, contoh pada tanggal x , siswa berlatih menggunting di rumah.

Dari isian Form Monitoring tersebut, tampak masih ada orangtua yang setengah hati mengisinya.

Sayang, mungkin masih ada orangtua yang belum paham manfaat monitoring tersebut, sehingga kurang teliti mengisi, bahkan ada yang tidak mengisi sama sekali. Bila terjadi, maka guru pembimbing khusus akan meminta kembali agar orangtua tersebut lebih bekerjasama demi perkembangan anak.

Akibat dari kealpaan orangtua, lazimnya proses perkembangan siswa ABK akan lebih lambat dari siswa dengan orangtua yang aktif.  Kondisi kurangnya perhatian ini pun akan disampaikan saat pembagian laporan tengah semester dan akhir semester.

“Tantangannya, bagaimana agar guru pendamping tidak bosan mengajarkan berulang-ulang, tetap antusias. Guru harus mencari cara-cara kreatif agar ABK senang diajari, begitu pun dengan para guru yang mengajarkan juga senang.”  Anggi Eka Aprilia, koordinator program inklusi SMP INS di Depok.  

4 RAPOR EVALUASI  PEMBELAJARAN 

Siswa berkebutuhan khusus pun mendapatkan evaluasi selama proses pendidikan. Mereka mengikuti ulangan kelas, dan pada akhir masa pembelajaran mengikuti Ujian Nasional inklusif.

Selama proses belajar, mereka mendapat berbagai model pelaporan/rapor.

Yang pertama, Rapor Kelas. Rapor ini disusun oleh wali kelas, sebagaimana lazimnya  rapor siswa reguler lainnya.

Kedua, Laporan dari guru pembimbing khusus terkait Pengembangan Diri, terdiri atas 4 aspek: Life Skill, Creative Class, Seni Rupa, dan Wiraga.

Ketiga, Laporan Kognitif  terhadap materi yang diujikan (semisal nilai matematika, bahasa Indonesia, IPA dan IPS).

Keempat, Laporan IEP siswa. Laporan IEP ini diberikan pertiga bulan, atau 2 kali dalam tiap semester. Berupa laporan tengah semester (LPTS) dan laporan akhir semester (LPAS). Jadi, Guru pembimbing khusus membuat 3 laporan perkembangan.

Di SMP INS, penyelenggaraan Ujian Nasional kategori Inklusif telah dapat dilakukan mandiri.   Guru pembimbing khusus membuat soal khusus, yang disampaikan ke Dinas Pendidikan Kota Depok, untuk mendapat pengesahan.

Para siswa ABK kemudian melakukan Ujian Nasional dengan materi soal yang telah disahkan tersebut, dan lulus dengan mendapatkan ijazah dari Dinas Depdikbud Kota Depok.

tim guru inklusif SMP INS, Depok

Tim guru pembimbing khusus, yang memberikan pelayanan dengan hati bagi perkembangan anak didik. Mereka adalah Kak Sukma, Dela, Azhar, Anggi, dan Tiar (kiri-kanan).

SEBERAPA TANTANGAN MENGELOLA SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS?  

Menurut Ibu Anggi Eka Aprilia, koordinator program inklusif di SMP INS, tantangan yang terberat adalah ketekunan seorang guru menangani siswa.

Begini. Siswa ABK biasanya memiliki memori yang pendek (short term memory) sehingga mereka mudah lupa. Untuk itu, siswa perlu mengulang-ulang informasi yang diterimanya.

“Tantangannya, bagaimana agar guru pendamping tidak bosan  mengajarkan berulang-ulang, tetap antusias. Guru harus mencari cara-cara kreatif agar ABK senang diajari, demikian pun dengan para guru yang mengajarkan juga senang,” kata Kak Anggi, begitu beliau disapa di sekolah.

Tantangan lain, adalah soal kemampuan anak yang berbeda-beda.

“Kami ingin siswa mendapat perkembangan yang signifikan, misalnya dalam hal A-B-C, tapi keinginan tersebut belum dapat segera terwujud terbentur oleh waktu dan banyak hal lain. Walau begitu, target tetap diusahakan tercapai,” jelasnya.

Perjalanan mendampingi dan membimbing anak berkebutuhan khusus memang masih panjang. Perlu dedikasi dan pengetahuan yang memadai, agar dapat mengampu siswa dengan berbagai keberagaman kecerdasan dan kendala lainnya, sehingga dapat harmonis bertumbuh-kembang dengan sesama siswa di lingkungan sekolah, dan kelak di dalam masyarakat.

/(Indrawan Miga/Anggi Eka Aprilia)

(Visited 181 times, 1 visits today)
Close
WhatsApp chat